IPTEK

Jika Tren Anti Sains Tidak Dikalahkan Kehidupan Tak Akan Lebih Baik

Ilustrasi para ilmuwan. (Foto: istimewa)

pigura.co, Hari ini lebih baik dari 50 tahun yang lalu? tergantung siapa yang Anda tanyakan. Hampir 9 dari 10 orang Vietnam berpikir demikian, tapi hanya 1 dari 10 orang Venezuela berpendapat sama.

Selain itu, sekitar dua pertiga orang Jerman dan Swedia mengatakan ya, namun kurang dari separuh orang Inggris dan hanya sepertiga orang Amerika yang setuju. Di seluruh dunia, mayoritas manusia (57 persen) menganggap kualitas hidup telah memburuk dan stagnan.

Sebagaimana dilansir dari New Scientist, Jumat (10/8), hasil ini berasal dari survei terhadap 43 ribu orang di 38 negara, yang diterbitkan tahun lalu oleh Pew Research Center di Washington DC. Kesuraman ini mungkin mengejutkan, mengingat betapa banyak kehidupan yang telah ditransformasikan oleh ilmu pengetahuan, teknologi dan ilmu kedokteran sejak tahun 1967.

Laporan tersebut menjelaskan, 50 tahun yang lalu, banyak negara belum mengalami peningkatan kesehatan dan harapan hidup yang dihasilkan oleh vaksinasi, revolusi hijau dan sebagainya. Teknologi telah secara dramatis meningkatkan standar hidup juga.

Mengapa orang-orang tidak memperhatikan atau peduli dengan itu? Pengaruh terbesar yang diidentifikasi oleh periset adalah persepsi responden terhadap kinerja ekonomi negara mereka sendiri sebagai satu-satunya faktor. Di Korea Selatan, India, Vietnam, Indonesia dan Turki, yang telah menikmati keuntungan ekonomi yang besar, mayoritas solid mengatakan bahwa kehidupan lebih baik karena hal itu.

Tapi saat hidup merupakan sebuah perjuangan panjang dan bertahap, perbaikan standar hidup karena kemajuan sains dan teknologi mudah dilupakan. Hasilnya adalah bahwa salah satu peningkatan terbesar kesejahteraan dalam sejarah manusia tampaknya diamini begitu saja, yakni disebabkan oleh ekonomi.

Ini adalah peringatan tentang masa depan. Mengingat, telah tampak tanda-tanda bahwa sumbangan dari sains dan teknologi dianggap melambat atau bahkan kebalikannya. Padahal tantangan seperti perubahan iklim dan penolakan antibiotik akan mempersulit dalam melakukan perbaikan kehidupan jika tren anti sains tidak dikalahkan.

Kemampuan manusia sejauh ini dalam mengatasi masalah tersebut sudah terancam oleh ‘tsunami’ anti-saintisme, yang telah beralih dengan menyangkal fakta-fakta ilmiah, akibatnya menghancurkan kemampuan berpikir manusia untuk menentukan solusi dari sebuah masalah yang membutukan pendekatan ilmiah terutama.

Fenomena itu semakin terlihat jelas ketika Donald Trump dari Gedung Putih melarang petugas di Centers for Disease Control and Prevention menggunakan istilah “berbasis bukti” dan “berbasis sains”.

Tidak berakhir di situ, rezim otoriter Turki terus menekan pertukaran gagasan secara bebas. Pemerintah India mempromosikan penelitian yang diilhami oleh mitologi Hindu – sifat pemberian kesehatan dari kotoran sapi dan air seni, misalnya.

Ilmu pengetahuan dan para ilmuwan perlu lebih baik dalam mengingatkan dunia bahwa mereka adalah kekuatan untuk sesuatu yang baik – termasuk meningkatkan kemakmuran kehidupan di dunia ini.

Namun, ilmu pengetahuan memiliki kelemahannya. Tidak semua orang akan menjadi atau seharusnya menjadi pemandu sorak untuk itu. Tapi saat memasuki masa-masa baru, kita semua bisa mulai dengan menekankan apa yang telah dilakukan sains dan bisa dilakukan untuk kita.

Jika kita lupa, dan membiarkannya tampak tidak relevan atau mengancam, setengah abad berikutnya mungkin keadaan nanti tidak lebih baik dari yang sekarang.[]

pigura.co | Jendela Informasi Terpercaya @2018