EKOSOBPOL

Tak Ada Tempat Aman Bagi Anak-Anak di Yaman

Seorang anak laki-laki membawa saudara perempuannya, saat dia berjalan di atas puing-puing rumah setelah dihancurkan oleh serangan udara pimpinan Saudi di ibukota Yaman, Sanaa, 11 Agustus 2016. (Foto: Reuters/Mohamed al-Sayaghi)

pigura.co, Setelah 29 anak tewas dalam serangan udara koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Saada, Dewan Keamanan PBB serukan penyelidikan independen. Hal ini juga menyebabkan 48 warga sipil cedera, 30 di antaranya adalah anak-anak.

Teror yang disebut sebagai “serangan terbesar terhadap anak-anak” sejak konflik mulai berkecamuk tahun 2015 itu sudah mengejutkan dunia internasional, pasalnya serangan itu menyasar ke sebuah bus yang mengangkut anak-anak.

“Kita harus melakukan penyelidikan menyeluruh, segera dan independen atas serangan ini, dan serangan lain yang terjadi baru-baru ini terhadap warga sipil serta infrastruktur sipil seperti sekolah dan rumah sakit. Kita sudah melihat peningkatan jumlah insiden, dan pelaku tidak dituntut,” kata kepala bidang eksekutif Save the Children (organisasi hak anak-anak) di Jerman, Susanna Kr├╝ger.

Bukan pertama kalinya anak-anak jadi korban perang di Yaman. Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), sejak Maret 2015, lebih dari enam ribu anak tewas atau cedera dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Arab Saudi, yang menarget pemberontak anti pemerintah.

Juru bicara UNICEF Juliette Touma, seperti disadur dari DW, Minggu (12/8), menuturkan bahwa Yaman adalah salah satu tempat paling mengerikan bagi anak-anak. Baginya, sekarang tidak ada tempat aman bagi anak-anak di sana.

“Di Yaman hampir semua anak perlu bantuan kemanusiaan akibat konflik. Keamanan dan penjagaan keamanan bagi anak-anak porak poranda akibat serangan yang tak kunjung henti, juga akibat banyaknya kekerasan terhadap anak-anak,” terang Touma.

Sejumlah pengamat mengemukakan pertanyaan setelah terjadinya serangan terakhir, apakah Arab Saudi dan koalisi pro pemerintah yang dipimpinnya sengaja menarget anak-anak. Sebagian besar analis setuju, memberikan jawaban tidak mudah.

Pakar politik Yaman yang tinggal di Berlin, Ali al-Absi, berpendapat bahwa serangan Arab Saudi dan koalisinya tidak secara khusus menarget anak-anak, namun catatan menunjukkan mereka kerap menyasar kawasan dengan potensi korban warga sipil sangat tinggi. Ia menjelaskan, Arab Saudi tampaknya tidak tertarik untuk mencegah agar warga sipil tidak terkena dampak perang.

Dia juga mengungkap, kalau kekejaman terhadap anak-anak turut dilakukan pihak lawan, pemberontak Houthi mengepung kota Taiz dan menarget warga sipil serta anak-anak dengan tembakan senapan.

Sejak 2015, ketika Arab Saudi dan sekutunya meluncurkan serangan militer terhadap pemberontak Houthi, yang bertujuan untuk mendukung pemerintahan di bawah Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi, yang diakui secara internasional, lebih dari 15 ribu orang tewas dan ribuan lainnya cedera.

Amerika Serikat dan negara-negara barat memberikan dukungan signifikan bagi koalisi tersebut melalui logistik dan penjualan senjata. Sejumlah organisasi HAM menyebut semua aksi ini seperti minyak yang bikin api tambah berkobar di Yaman, menghancurkan salah satu negara paling miskin di dunia. Di sisi lain, Iran, dari sejumlah laporan dianggap menyalurkan bantuan bagi pemberontak Houthi.[]

pigura.co | Jendela Informasi Terpercaya @2018